Tapi oleh siapa? Apakah kita semua? Memangnya tangan kita siap untuk berlumuran darah dan menghadapi kematian demi orang-orang 'asing'?
Setiap hari aku selalu curhat supaya kepengen mati. Sayangnya aku sendiri, tidak siap mati dalam keadaan berperang atau heroik lah seperti Don Kuisot. Tapi seperti apa yang dikatakan Emil Cioran dalam the new Gods nya.
“Obsesi pada bunuh diri adalah ciri orang yang tidak sanggup hidup dan tidak sanggup mati, dan yang perhatiannya tak pernah lepas dari kemustahilan ganda ini.”
Bukan berarti melakukan 'bunuh diri', istilahnya itu seperti "hidup segan, mati pun enggan". Pepatah ini sebenarnya termasuk ejekan juga sih ketika aku menghadapi suatu hal yang tidak aku sanggupi. Bunuh diri sendiri sebenarnya bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, tanpa paksaan dan hambatan. Tapi kenapa kita selalu terlambat ketika ingin melakukannya? (The trouble with being born).
Ketika aku belajar soal Fiqih Jenazah sudah barang tentu juga aku sedikit takut dengan kematian itu sendiri. Karena dari Ilmu itu aku bisa membayangkan bagaimana aku melalui proses kematian yang sesungguhnya, kemudian dengan segala konsekuensi yang ada pada kehidupan setelah kematian.
Dalam Islam aku dengar kita gak boleh takut menghadapi kematian. Mungkin maksudnya kita harus bersiap menghadapinya. Takut juga boleh, karena itu bisa memberikan kesadaran supaya kita harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan kita saat ini. Namun aku gak yakin, mungkin tergantung orangnya.
Ketakutanku pada kematian seperti ini barangkali menjadi refreleksi, betapa besarnya beban menjadi manusia. Mungkin kita sering diajarkan untuk "siap mati", tapi kita tidak atau jarang diajarkan bagaimana cara untuk "siap hidup" dengan benar.
Jadi kadang aku merasa harus beruntung, meski aku mungkin hidup di lingkungan akademis yang terafiliasi dengan ormas terlarang. Kitab putih sebagai 'Das Kapitalnya' yaitu Nizham Al Islam suatu kitab yang dijadikan bahan tawaan, kekonyolan, dan sebagainya. Mereka mengajarkanku bagaimana cara menjalani kehidupan dengan benar, terutama kehidupan dalam beragama Walaupun tidak 100% aku bisa terapkan sesuai yang ada di kitab tersebut dan sebagiannya aku juga merasa tidak setuju padahal pemikirannya juga berasaskan ajaran agama yang aku anut sendiri.